Panggil saja saya ikky,
Saya adalah seorang developer game indie yang berbasis di Gorontalo, Indonesia. 
Blog ini berisi informasi seputar game, portofolio, proyek yang telah dan sementara saya kerjakan.
Disamping itu kalian juga dapat menemukan postingan saya tentang game development seperti pemrograman dan desain game.

Minggu, 02 Februari 2025

Koleksi Code Snipped Frappe Framework

Dua tahun terakhir saya bekerja sebagai DevOps di sebuah perusahaan yang menggunakan sistem ERPNext. Maka dari itu saya kembali belajar hal baru yang tidak berhubungan dengan game develop.
 
Salah satunya adalah Frappe Framework yang menjadi landasan ERPNext. Maka dari itu, saya ingin berbagi beberapa Code Snipped Frappe Framework yang sangat berguna bagi saya. Terutama Server Script (Python) dan Client Script (Javascript).

Server Script (Python)

test makan
function helloWorld() {
    console.log("Hello, world!");
}
Test makan nasi goreng

Client Script (Javascript)

Kamis, 16 Juni 2022

Perlukah Kuliah Di Jurusan IT (Software) ?

Pertanyaan seringkali muncul di kalangan anak SMA yang akan atau baru saja lulus. Dan yang masih bingung untuk menentukan arah hidupnya. Terlebih lagi muncul kepada mereka yang telah memilih perkuliahan jurusan IT seperti Teknik Informatika, Ilmu Komputer, ataupun Teknik Komputer. Sehingga muncul keraguan maupun penyesalan tentang jurusan yang telah diambil.

Kata Orang

Dahulu saya (baca:penulis) mempunyai seorang teman kuliah satu jurusan IT (Teknik Komputer) yang memutuskan untuk pindah ke jurusan lainnya. Tentunya jurusan pilihannya yang baru ini tidak ada sangkut pautnya dengan IT. Dan pada saat itu saya menanyakan tentang alasannya untuk pindah jurusan. "Kalau mau belajar komputer kan bisa dari internet", tuturnya. Sepintas pernyataan yang dia sampaikan membuat saya berfikir ulang tentang keputusan yang telah saya ambil. Saya menjadi ragu untuk melanjutkan studi IT di perkuliahan. Dan hingga sampai saat ini, setelah saya luluspun pernyataan itu masih bergejolak di benak saya.

Di Lapangan

Apa yang saya dapati di lapangan justru senada dengan pernyataan teman saya ini. Banyak yang berkiprah di dunia pengembangan software justru mereka yang tidak memiliki jenjang pendidikan yang tinggi. Bahkan dengan adanya jurusan IT di sekolah kejuruan (baca:SMK) membuat jenjang perkuliahan untuk pengembangan software menjadi dipertanyakan. Dan telebih lagi, beberapa bidang pekerjaan IT malah banyak yang lebih mementingkan pengalaman daripada adanya ijazah dan index prestasi perkuliahan.

Beberapa teman kuliah saya juga telah bekerja di salah satu perusahaan bahkan sebelum mereka lulus kuliah. Dengan bermodal portofolio dari proyek mereka saja sudah bisa menjadi syarat masuk di perusahaan tersebut. Sampai ada yang berhenti kuliah karena telah fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.

Tentunya ini menjadi masalah baru, apakah bisa lulusan kuliah (baca:sarjana) bersaing setara dengan lulusan SMA/SMK untuk mencari pekerjaan. Atau bahkan bersaing dengan mereka yang hanya bermodalkan dengan belajar dari internet dan memiliki lebih banyak proyek pada portofolionya.

Bagian Akhir

Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa jurusan IT, untuk selalu memperbanyak proyek di luar perkuliahan. Dan juga untuk selalu up to date tentang teknologi terbaru. Tentunya SKS di perkuliahan tidaklah cukup untuk menunjang kita di dunia kerja.

Dan ijazah IT bukan sepenuhnuya tidak berguna. Di beberapa tempat kerja juga ada yang lebih mengutamakan lulusan sarjana dibandingkan SMA/SMK. Dan dengan adanya ijazah kuliah, akan membuka lebih banyak opsi pekerjaan di bidang lainnya.

Salah seorang game developer indie Rami Ismail mengungkapkan melalui akun Twitternya.

Hal yang dimaksud Rami Ismail memang membicarakan tentang game developer. Akan tetapi, hal ini juga berlaku untuk semua bidang teknologi. Karena bisa jadi pada saat kita lulus, apa yang telah kita pelajari di masa perkuliahan telah ditinggalkan dan beralih ke teknologi yang lebih baru.

Pada intinya, kita harus selalu up to date tentang teknologi terbaru. Baik saat kita mengambil kuliah IT maupun belajar secara otodidak.

Sabtu, 07 September 2019

Mimpi Rilis, Nihil Eksekusi | Dilema Game Developer

Setiap orang pasti punya impian masing-masing. Dari impian yang sederhana sampai yang luar biasa. Tidak terkecuali mereka yang berkecimpung di dunia game development. Sebut saja si A, seorang pemuda yang mengklaim dirinya sebagai "game daveloper". Bahkan tanpa ragu dia sematkan 'role'-nya sebagai seorang desainer game di sebuah studio yang dia buat sendiri. Seakan-akan profesional yang mapan dibidangnya, diapun berangan-angan membuat sebuah game revolusioner.

Semua hal telah dipikirkan. Dari besar studio, jumlah developer, ide dan desainnya. Bahkan sampai musik telah dipikirkan olehnya seperti apa nanti jadinya. Dia juga telah sedikit berlatih berbicara untuk pers. Sedikit memperagakan dirinya seakan-akan diwawancarai tentang gamenya yang telah sukses. Dan pada akhirnya dia terhanyut dalam angan-angan semu, tanpa menyadari waktunya terbuang dan tidak ada satupun bagian dari game miliknya yang selesai.

Introspeksi

Dari sini kita bisa melihat, salah satu contoh awal dari gagalnya suatu pengembangan game (baca:game development). Tidak sedikit orang yang mirip seperti contoh tadi. Bahkan saya sendiri juga melakukan hal yang sama. Akan tetapi, sampai kapan kita seperti ini terus. Berlalu dengan delusional yang tiada ujungnya. Bahkan seorang yang menghabiskan waktunya menonton tutorial, dan belajar lebih baik dari pada tidak menghasilkan apa-apa. Untuk apa repot-repot menyematkan "profesi" sebagai game developer jika belum ada satupun game kita yang selesai. Dan pada akhirnya kita akan menyadari bahwa diri kita adalah orang yang tidak produktif.

Mulai Bergerak

Satu langkah awal lebih baik daripada tidak sama sekali. Seorang yang ingin membuat game pasti tau apa yang akan dibuatnya. Tahu seperti apa game yang akan jadi dengan kemampuannya, apakah itu skill ataupun modalnya. Maka dari itu, kita awali dengan memahami kemampuan kita sendiri. Dan mulai menghitung probabilitas seperti apa game yang akan kita buat.

Kita harus bisa menentukan target dan hasil akhir dari game yang akan dibuat. Apakah ini akan jadi game komersil, atau sebatas hobi saja. Apakah berupa pembelajaran, atau sebatas mengisi portofolio. Hal ini termasuk dalam perencanaan sebelum bergerak. Dan agar kita tahu, seberapa besar waktu kita terbuang bermanfaat, ataupun percuma.

Setelah itu, kita bisa memulai dengan membuat 'scope' dari game yang akan dibuat. Menyesuaikan dengan kemampuan dan rencana waktu pengerjaan. Seterusnya mengikuti langkah-langkah pembuatan game.

Bagian Akhir

Tulisan ini bisa mejadi gambaran bagaimana seharusnya kita bertindak sebagai seorang game developer. Atau bisa dibilang independen game developer (baca:indie). Karena akan berbeda dengan orang yang telah bekerja di suatu tim yang terorganisir, atau sebuah studio yang telah mumpuni. Yang dimana telah jelas tujuan dan pekerjaan apa yang akan mereka lakukan.

Pada intinya, tulisan ini ditujukan untuk orang-orang seperti saya. Yang sangat mengidam-idamkan bekerja secara independen dan mendirikan sebuah studio. Atau mendambakan kerja tanpa ada batasan jadwal. Akan tetapi tenggelam dengan angan-angan tanpa ada eksekusi nyata.

Minggu, 26 Februari 2017

Mengenal Unity 3D

Unity 3D adalah salah satu software game engine yang populer dikalangan developer. Aplikasi ini sering dipakai dipakai untuk membuat aplikasi game dan multimedia. Banyak fitur dari aplikasi ini yang mungkin dapat membantu kawan-kawan untuk membuat aplikasi game. Salah satu fiturnya yaitu multiplatform. Sekali projek kita dibuat, kita dapat merilisnya di beberapa platfrom berbeda. Seperti Windows, Android, IPhone, dll.

Mengapa Unity 3D ?

Mungkin banyak yang bertanya, "Mengapa harus Unity 3D ?". Banyak keunggulan Unity 3D dibanding game engine lainnya di luar sana dari beberapa aspek (menurut saya). 
  • Petama, unity dirancang dengan antarmuka yang sangat user-friendly. Sehingga, tidak butuh waktu lama untuk mempelajarinya bagi yang sangat awam sekalipun. 
  • Kedua, banyak tutorial yang tersedia di internet. Mulai dari yang resmi Unity, sampai beberapa komunitas dan individu. 
  • Ketiga, AssetStore. AssetStore sangat membatu kita dalam mengembangkan aplikasi game secara independent. Jika kita membutuhkan komponen untuk game kita, bisa cari di AssetStore. 
  • Keempat, telah menerapkan coding. Mungkin ada beberapa game engine yang tidak membutuhkan coding sekalipun. Tapi di Unity 3D, menggunakan coding sangat bermanfaat. Karena akan lebih membuat game kita powerfull. Bagi yang belum bisa coding, saya harap jangan takut. Karena kedepannya kita akan mempelajarinya bersama.
Untuk kedepannya, saya akan sering membahas tutorial menggunakan engine ini (Unity 3D). Dengan tingkatan paling dasar sampai menengah.

Sebelum itu, kami menyarankan kawan-kawan sekalian untuk menonton video dari ExtraCredits di bawah ini. Karena di dalamnya terdapat banyak motivasi untuk membuat game.